STRES PENYEBAB KEGEMUKAN

Memahami Metabolisme

 

Jika Anda ingin memiliki tubuh yang lebih sehat dan langsing, mulailah lebih fokus dengan sata kata ini, metabolisme!

 

Metabolisme tidak sama dengan sistem pencernaan. Metabolisme jauh lebih kompleks lagi karena terdiri dari pengaturan biokimia di dalam tubuh manusia. Semua makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh pasti akan mengalami proses metabolisme hingga akhirnya diubah menjadi energi. Inilah yang membuat tubuh bisa menjalankan berbagai aktifitasnya.

 

Saya berikan contoh dari pengalaman sehari-hari agar Anda bisa memahami metabolisme.

 

Ketika Anda sedang berlibur bersama teman maupun keluarga, tentu Anda menjumpai orang yang bisa makan apa saja tanpa perhitungan dan pikir-pikir selama perjalanan. Sementara Anda makan dengan penuh perhitungan, pertimbangan, kehati-hatian dan makan dengan jumlah yang lebih sedikit darinya. Lalu saat liburan berakhir, berat badannya tidak bertambah sekilo pun, sedangkan Anda membawa kuliner dari perjalanan itu dalam bentuk lemak di tubuh Anda. Satu-satunya hal yang membuat perbedaan hasil ini adalah laju metabolisme.

 

Dulu, saat masih remaja, Anda bisa makan dengan bebas dan tubuh masih tetap ideal. Lalu seiring dengan bertambahnya usia kronologis Anda, makan sedikit saja sudah membuat Anda bertambah gemuk. Ini juga karena laju metabolisme.

 

Teman Anda, si pemakan segalanya beruntung karena ia memiliki kecepatan metabolisme yang lebih tinggi, sehingga apa saja yang dia makan bisa dengan cepat diurai menjadi energi. Sedangkan Anda memiliki kecepatan metabolisme yang rendah, sehingga makanan yang Anda makan cenderung disimpan sebagai lemak. 

 

Di saat remaja, metabolisme Anda lebih aktif dibanding ketika sudah dewasa. Metabolisme yang tidak dirawat dengan baik, cenderung kondisinya menurun seiring dengan bertambahnya usia.

 

Singkatnya, metabolisme bisa diartikan sebagai sejumlah rangkaian proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk hidup. Dengan bahasa yang lebih sederhana lagi, metabolisme adalah proses pembakaran kalori untuk menghasilkan energi.

 

Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan metabolisme menjalankan tugasnya.

 

  1. Kecepatan metabolisme bergantung dengan bagaimana kalori yang masuk ke tubuh saling berinteraksi antara satu sumber dengan sumber kalori lainnya. Contoh, Anda makan terlalu banyak protein tanpa diimbangi dengan karbohidrat yang cukup, maka metabolisme sulit untuk bisa menguraikan protein tersebut dengan cepat. Sebuah penelitian yang diterbitkan di The Netherlands Journal of Medicine edisi September 2011, menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat tidak memberikan manfaat pada  laju metabolisme. Berbeda dengan diet tinggi protein, menunjukkan manfaat yang signifikan pada laju metabolisme, menambah sekitar 80 hingga 100 kalori yang dibakar per hari. Jadi memperhatikan keseimbangan sumber kalori yang dikonsumsi itu sangat penting untuk mengoptimalkan laju metabolisme.
  2. Semua aktifitas tubuh kita membutuhkan sejumlah kalori yang dibakar, meskipun ketika tubuh sedang melakukan kegiatan yang sederhana seperti bernafas dan tidur. Tidur? Ya, benar. Saat tidur pun tubuh kita membakar sejumlah kalori, semakin dalam tidur yang dialami, semakin optimal pembakaran kalori. Tidur lelap sepanjang 8 jam di malam hari akan mengoptimalkan pembakaran kalori di siang dan malam harinya. Bagaimana jika Anda kekurangan tidur? Bisa dipastikan selain kelelahan Anda juga kecepatan metabolisme Anda akan menurun, artinya Anda berpotensi menjadi semakin gemuk.
  3. Faktor genetik juga mempengaruhi laju metabolisme Anda, tetapi jangan merasa memiliki kambing hitam atas masalah berat badan Anda dan merasa tidak berdaya karenanya. Faktor genetik ini hanya mempengaruhi sebesar 5% saja, artinya Anda masih memiliki 95% faktor lainnya yang bisa Anda kendalikan dengan sepenuhnya. 
  4. Metabolisme tidak menjalankan fungsinya sendirian, melainkan berintegrasi dan dipengaruhi oleh kinerja sistem lainnya. Dua sistem yang paling mempengaruhi metabolisme adalah sistem endokrin dan sistem saraf. Kedua sistem ini erat sekali hubungannya dengan stres. Artinya semakin tinggi level stres Anda, semakin besar kesempatan Anda untuk menjadi gemuk.

 

 

Memahami Stres

 

Anda pasti kenal baik dengan perasaan cemas, khawatir, merasa tidak mampu, merasa terancam, bingung, merasa tidak berdaya, takut, tegang, panik, tidak suka, benci, kecewa, ingin mengindar, ingin lari dari sebuah keadaan, atau perasaan lain yang mirip dengan perasaan seperti ini. Manusia purba akan merasakan perasaan ini saat bertemu dengan binatang buas.  

 

Bagaimana dengan manusia moderen seperti kita? 

 

Binatang buas itu berubah nama menjadi tagihan kartu kredit, cicilan rumah dan mobil atau hutang lainnya, pertengkaran dengan pasangan atau keluarga, sikap buruk tetangga, deadline pekerjaan, omset menurun, target tidak tercapai, macet di jalan saat menuju rapat yang penting, trauma masa lalu, dan seabrek masalah hidup yang lain. 

 

Untuk lebih memahami stres dan kaitannya dengan kinerja sistem endokrin dan sistem saraf, maka kita perlu terlebih dahulu memahami mekanisme bertahan yang disebut dengan respon fight, flight or freeze. 

 

Jika Anda pernah melihat tayangan tentang kehidupan hewan yang memangsa dan dimangsa, Anda tentu pernah melihat adengan kejar-mengejar mereka. Seperti inilah adegannya, seekor singa mengendap-endap mengintai sekelompok rusa yang sedang menikmati rumput hijau dengan ketenangan. Sambil terus berupaya mendekati mangsanya, singa tersebut tetap berupaya agar kehadirannya tidak diketahui oleh mangsanya. Sayangnya rusa-rusa cukup peka dengan perubahan yang ada di sekitarnya dan menjadi awas dengan sekelilingnya, tepat ketika matanya beradu dengan mata singa, mereka pun mulai berhamburan dan berlari sekencang-kencangnya. 

 

Anda bisa melihat bahwa dalam hitungan detik saja, rusa yang tadinya dalam kondisi fisik yang begitu tenang menikmati rumput, langsung menjadi siaga dan tubuhnya langsung mampu berlari dengan begitu kencang tanpa perlu pemanasan terlebih dahulu. Apabila rusa tersebut gagal manjadi santapan singa, maka tepat ketika mereka tidak lagi merasakan ancaman, alih-alih tetap waspada, mereka langsung menjadi tenang dan menikmati rumput dengan damai kembali, seolah kejadian kejar mengejar tadi hanya mimpi belaka.

 

Bagaimana proses ini terjadi?

 

Ketika sebuah pesan tentang adanya ancaman diterima, maka sistem saraf otonom secara otomatis memberikan sinyal siaga pada tubuh. Adrenal cortex secara otomatis melepaskan hormon stres, jantung otomatis mulai berdetak lebih kuat dan cepat, nafas  otomatis mulai tersengal-sengal dan pendek, kelenjar tiroid otomatis mulai menstimulasi metabolisme, wilayah otot yang lebih luas menerima lebih banyak darah yang mengandung lebih banyak oksigen. Satu hal penting yang harus Anda ketahui, begitu muncul perasaan terancam, maka sistem endokrin dan sistem saraf di atas bekerja secara otomatis! Ya, benar. Anda tidak bisa mencegahnya.

 

Lalu, bagaimana jika ancaman ini terjadi kepada manusia? 

 

Tidak sama seperti rusa yang bisa langsung menikmati rumput dengan tenang setelah ancaman yang dianggap membahayakan hilang. Manusia, setelah lepas dari ancaman yang membahayakan, justru akan memikirkan langkah-langkah preventif agar bahaya yang sama tidak terjadi di masa depan. Benar, masa depan. Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang mampu memikirkan masa depan dan menggunakan lebih banyak waktu untuk memikirkannya. Sayangnya kemampuan ini menjadi sumber penderitaan manusia. Disebut sumber penderitaan karena saat melakukan berbagai langkah preventif ini, tanpa sengaja kita membawa perasaan terancam ini secara terus menerus.

 

Kebanyakan masa depan dibangun untuk menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan yang berasal dari masa lalu. Inilah alasan yang membuat pikiran rentan disusupi pemikiran yang negatif saat memikirkan masa depan. Pemikiran negatif ini adalah bentuk dari perasaan terancam. Perasaan terancam ini bukan lagi muncul dari bahaya yang nyata, melainkan dari objek yang dipersepsikan sebagai ancaman, artinya ancaman ini hanya ada di dalam pikiran. Ancaman ilusi.

 

Amygdala adalah bagian otak yang berfungsi untuk mengevaluasi emosi, terutama rasa takut, lalu dalam waktu singkat ia harus membuat keputusan untuk memberikan respon fight, flight or freeze. Sayangnya amygdala tidak memiliki kemampuan untuk membedakan emosi yang muncul dari ancaman yang nyata atau ancaman ilusi. Dia tetap akan memberikan respon yang dianggap terbaik.

 

Jadi, satu perasaan cemas yang muncul akibat sebuah pemikiran negatif saja sudah mampu membuat sistem endokrin dan sistem saraf kalang kabut. Inilah yang membuat manusia menderita stres kronis yang memberikan pengaruh buruk pada kesehatan psikis maupun fisik, juga tentu saja akan mempengaruhi kualitas hidup.

 

 

Stres dan Metabolisme

 

Sekarang Anda sudah memahami lebih jauh tentang stres dan metabolisme, juga keterkaitan kedua hal itu. Memahami dengan benar keduanya menjadi bagian penting untuk Anda dalam berupaya secara cerdas saat melangsingkan tubuh. 

 

Lalu bagaimana stres bisa menjadi penyebab kegemukan?

 

Ketika tubuh mendapatkan sinyal adanya ancaman, baik secara nyata maupun secara persepsi (hayalan, pemikiran, benak, lamunan atau segala hal yang menjadi produk pikiran), kelenjar adrenal akan menghasilkan hormon stres bernama kortisol. Kortisol diproduksi dengan tujuan untuk mempersiapkan tubuh bereaksi dengan fight, flight or freeze. Gula dipasok lebih banyak ke dalam darah agar tubuh memiliki cukup energi. 

 

Dalam kasus rusa yang berlari setelah melihat harimau yang akan menjadikannya makanan, gula yang beredar ini akan menjadi makanan bagi sel sehingga tubuh bisa segera berlari menghindari ancaman. 

 

Tidak peduli apakah ancaman ini berupa binatang buas kelaparan yang mengejar dan ingin menyantap Anda atau tagihan kartu kredit yang hampir jatuh tempo sementara di rekening bank tidak tersedia uang yang cukup atau masalah hidup lainnya, sistem endokrin akan tetap memasok gula ke dalam darah. Masalahnya adalah, manusia tidak berlari atau menggunakan gerakan fisik sedikit pun untuk mengatasi masalahnya. Kadar gula di dalam darah menjadi melimpah ruah karena tidak digunakan oleh tubuh untuk berlari atau bergerak. Akhirnya gula ini disimpan sebagai cadangan energi, apalagi jika bukan dalam bentuk lemak.

 

Kebanyakan orang yang mengalami masalah-masalah yang sudah disebutkan di atas sehingga muncul perasaan-perasaan tidak nyaman, yang oleh amygdala dipersepsikan sebagai ancaman, mereka memasok gula yang direncanakan untuk kesiapan bereaksi dengan fight, flight or freeze, dengan memakan makanan manis dan berlemak tinggi. Dan pada akhirnya gula sederhana ini tidak digunakan sama sekali. Sempurna! Tanpa Anda sadari upaya Anda untuk mengatasi stres telah berhasil membuat Anda menjadi lebih gemuk.

 

 

Relaksasi Pikiran

 

Tidak ada cara untuk bisa benar-benar bebas dari permasalahan hidup selama kehidupan ini berputar terus menerus. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar tidak tergelung dalam ancaman ilusi?

 

Menurut peneliti dari Benson-Henry Institute for Mind Body Medicine di Massachusetts General Hospital, praktik relaksasi pikiran secara rutin bukan hanya memberikan hasil berupa ketenangan pikiran, namun juga meningkat metabolisme tubuh.

 

Para peneliti meneliti 48 orang yang dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah pada tiap kelompok adalah 24 orang. Kelompok pertama adalah mereka yang tidak pernah melakukan praktik relaksasi pikiran sebelumnya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah mereka yang telah berpraktik relaksasi pikiran minimal selama empat tahun. Kemudian kedua kelompok ini diminta untuk mengikuti sebuah program relaksasi pikiran selama delapan minggu.

 

Sebelum dan sesudah mengikuti program, darah mereka diperiksa dan ditemukan bahwa mereka yang mempraktikkan relaksasi pikiran secara rutin mengalami penurunan tekanan stres, trauma, peradangan hingga resiko kanker. Lebih jauh lagi, peneliti juga menemukan respon positif dari pankreas untuk memproduksi insulin dan ternyata juga meningkatkan mitochondria yang merupakan pusat pembakaran kalori di dalam sel kita.

 

Kesimpulannya adalah metabolisme meningkat lebih baik pada orang yang mempraktikan relaksasi pikiran secara rutin dan bahkan hasil yang lebih baik terlihat lebih jelas lagi pada mereka yang berpengalaman lebih lama mempraktikkan relaksasi pikiran ini.

 

Meningkatnya metabolisme tubuh inilah yang membuat praktik relaksasi pikiran menjadi begitu penting untuk dipraktikkan bagi mereka yang menginginkan tubuh sehat dan langsing. 

 

Selain itu relaksasi pikiran juga memberikan manfaat besar pada aspek hidup Anda yang lain. Ketenangan pikiran yang dicapai akan membuat Anda mampu menjaga kualitas pikiran. Anda akan memproduksi lebih banyak pikiran positif dari sebelumnya dan ini akan mengurangi ancaman ilusi yang bisa memicu stres yang tidak diperlukan. 

 

Karena pikiran Anda semakin positif, maka ini akan mempengaruhi kualiatas ucapan. Anda akan lebih banyak berbicara secara positif, Anda lebih banyak memuji ketimbang mengkritik, Anda lebih banyak bersyukur ketimbang mengeluh. Hal ini akan mempengaruhi relasi diri Anda dengan orang lain. 

 

Lalu ucapan yang positif ini akan mempengaruhi perilaku Anda, pikiran yang diucapkan cenderung untuk direalisasikan. Perilaku Anda akan berubah menjadi lebih baik, Anda berubah menjadi orang yang lebih penyabar dan lembut. Perilaku baik ini akan mempengaruhi lingkungan Anda. Kita tidak bisa mengubah orang lain, tapi kita bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk berubah.

 

 

Mengelola pikiran Anda dengan tepat adalah solusi cerdas untuk mengatasi masalah berat badan Anda. 



Dipublikasikan di http://quantumslimming.com/index.php?p=article&action=shownews&pid=259 pada tanggal 28 Januari 2016 06:46